• Kamis, 26 Mei 2022

Omicron Miliki Tingkat Penularan Tinggi, Epidemiolog Unair Dukung Vaksin Booster jadi Syarat Mudik Lebaran

- Jumat, 1 April 2022 | 16:24 WIB
Epidemiolog Universitas Airlangga (UNAIR), Laura Navika Yamani SSi MSi Phd. Foto/Humas Unair
Epidemiolog Universitas Airlangga (UNAIR), Laura Navika Yamani SSi MSi Phd. Foto/Humas Unair

POJOK MADURA - Pemerintah menerapkan kebijakan bahwa syarat mudik Lebaran 2022 masyarakat harus sudah vaksin booster.

Kebijakan tersebut rupanya mendapat dukungan dari Epidemiolog Universitas Airlangga (UNAIR), Laura Navika Yamani SSi MSi Phd. mendukung kebijakan pemerintah menjadikan vaksin booster sebagai syarat mudik Lebaran 2022.

Menurutnya, keputusan pemerintah sudah tepat dan sesuai aturan. Masyarakat dihimbau untuk vaksin booster jika belum melakukamln.

Baca Juga: Bawa Nama Masyarakat Madura, Ratusan Spanduk Dukungan Jokowi 3 Periode Bertebaran di Jalan Akses Suramadu


“Melihat data dari masyarakat yang sudah divaksin dosis dua itu cukup banyak, sudah lebih dari 70 persen. Jadi seharusnya tidak menjadi kesulitan masyarakat dan keputusan pemerintah sudah sesuai aturannya,” terang Laura, Jumat, 1 April 2022.

Dosen fakultas kesehatan masyarakat ini menerangkan karakteristik varian virus Omicron yang memiliki tingkat penularan lebih tinggi dari varian sebelumnya. Hal itu, menyebabkan cakupan vaksin yang dibutuhkan meningkat, sesuai perhitungan rate of transmission.

Baca Juga: Rutan Bangkalan dan BIN Gelar Vaksinasi Covid-19 Booster bagi Warga Binaan

“Makanya walaupun kita sudah melewati untuk dosis dua cakupannya lebih dari 70 persen (red, populasi), tentu harapan pemerintah semakin banyak orang yang mendapatkan vaksin. Dan tentunya dengan berbagai alasan yang dilakukan pemerintah, salah satunya, ya, menjadi persyaratan untuk mudik,” jelasnya.

Ia menerangkan pemerintah juga akan menyediakan fasilitas vaksin di sarana-sarana transportasi umum seperti bandara atau stasiun. Selain itu, pemerintah juga menyediakan pilihan bagi yang belum melakukan vaksinasi dosis lengkap untuk melakukan pemeriksaan antigen atau PCR sebagai gantinya. Tentu dengan risiko penularan yang lebih tinggi daripada yang telah melakukan vaksinasi dosis lengkap.

Halaman:

Editor: Syaiful Islam

Sumber: Humas Unair

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X